• AKADEMI KOMUNITAS KELAUTAN DAN PERIKANAN WAKATOBI
  • Jaga Laut Kita

EDUWISATA RUMPUT LAUT RAMAH LINGKUNGAN: MODEL PARIWISATA BERKELANJUTAN DARI WAKATOBI

Penulis : Normayasari, S.T., M.Sc

Dosen Program Studi Ekowisata Bahari Akademi Komunitas KP Wakatobi

 

Wakatobi selama ini dikenal sebagai surga bawah laut dunia dengan kekayaan terumbu karang dan biodiversitas laut yang luar biasa. Namun, di balik kekuatan sektor wisata baharinya, terdapat potensi ekonomi pesisir yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pariwisata daerah: budidaya rumput laut berbasis masyarakat. Melalui penelitian yang dilaksanakan di Desa Liya Onemelangka, dosen Akademi Komunitas KP Wakatobi mengkaji bagaimana praktik budidaya rumput laut ramah lingkungan—khususnya penggunaan pelampung batok kelapa sebagai pengganti plastik dan gabus—dapat dikembangkan menjadi eduwisata berbasis Community-Based Tourism (CBT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga relevan secara ekologis dan sosial sebagai strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan.

 

Mengapa Eduwisata Rumput Laut Relevan?

Perubahan perilaku wisatawan pasca pandemi menunjukkan pergeseran preferensi menuju wisata yang lebih bermakna, otentik, dan berkelanjutan. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari destinasi, tetapi pengalaman belajar dan keterlibatan langsung dengan masyarakat lokal.

Dalam konteks ini, budidaya rumput laut menawarkan pengalaman edukatif yang komprehensif, antara lain:

  • Memahami proses penyortiran dan pemilihan bibit berkualitas
  • Mengikuti tahapan pengikatan dan penanaman di laut
  • Berinteraksi langsung dengan pembudidaya sebagai pelaku utama
  • Mempelajari praktik budidaya ramah lingkungan

Setiap tahapan memiliki nilai edukasi yang tinggi karena memperlihatkan relasi antara pengetahuan lokal, praktik ekonomi, dan keberlanjutan ekosistem laut. Inovasi penggunaan batok kelapa sebagai pelampung menjadi elemen pembeda yang signifikan. Selain mengurangi potensi pencemaran laut akibat material sintetis, inovasi ini memperlihatkan bagaimana solusi berbasis sumber daya lokal dapat memperkuat prinsip ekonomi sirkular di wilayah pesisir.

 

Kontribusi Strategis terhadap Pembangunan Daerah

Pengembangan eduwisata rumput laut memberikan dampak multidimensional yang selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan daerah.

  1. Dimensi Lingkungan

Transisi dari pelampung plastik ke batok kelapa berkontribusi pada pengurangan limbah laut dan mendukung konservasi kawasan pesisir. Praktik ini memperkuat positioning Wakatobi sebagai destinasi yang tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menjaga keberlanjutannya.

  1. Dimensi Ekonomi

Model eduwisata membuka peluang diversifikasi pendapatan masyarakat pesisir melalui paket wisata, homestay, kuliner berbasis rumput laut, hingga produk olahan bernilai tambah. Hal ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber penghasilan dan meningkatkan ketahanan ekonomi lokal.

  1. Dimensi Sosial

Pendekatan CBT memastikan masyarakat menjadi aktor utama dalam perencanaan dan pengelolaan wisata. Partisipasi aktif dan rasa kepemilikan (sense of ownership) menjadi fondasi keberlanjutan model ini.

  1. Dimensi Edukasi

Eduwisata ini menghadirkan fungsi pedagogis, baik bagi wisatawan maupun mahasiswa. Desa menjadi ruang belajar (living laboratory) untuk praktik kewirausahaan sosial, pariwisata berkelanjutan, dan pengelolaan sumber daya pesisir.

 

Signifikansi bagi Wakatobi

Sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional sekaligus bagian dari Cagar Biosfer Dunia UNESCO, Wakatobi membutuhkan model pengembangan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan konservasi lingkungan. Selama ini, pengembangan wisata lebih terfokus pada eksplorasi keindahan alam bawah laut. Integrasi sektor perikanan ke dalam sistem pariwisata masih terbatas. Eduwisata budidaya rumput laut menawarkan model integratif antara sektor perikanan dan pariwisata dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan.

Model ini berpotensi mendorong:

  • Diversifikasi produk wisata berbasis ekonomi lokal
  • Penguatan ekonomi masyarakat pesisir
  • Branding sebagai destinasi marine eco-education
  • Replikasi di desa pesisir lainnya

 

Arah Kebijakan yang Diperlukan

Agar model ini berkembang secara sistemik dan berkelanjutan, diperlukan dukungan kebijakan strategis, antara lain:

  • Integrasi eduwisata budidaya rumput laut dalam dokumen perencanaan pariwisata daerah
  • Penyediaan insentif bagi praktik budidaya ramah lingkungan
  • Penguatan kapasitas SDM melalui pelatihan pemandu dan manajemen eduwisata
  • Pengembangan strategi promosi digital dan paket wisata terintegrasi

Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, pelaku industri, dan perguruan tinggi menjadi kunci implementasi.

 

Peran Kampus dalam Transformasi Pesisir

Riset ini menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai produsen pengetahuan, tetapi sebagai mitra strategis pembangunan daerah. Melalui pendekatan berbasis riset, kampus menghadirkan model yang aplikatif, berbasis data lapangan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Pengembangan eduwisata rumput laut ramah lingkungan bukan sekadar inovasi produk wisata. Ini adalah upaya membangun ekosistem pesisir yang berkelanjutan, di mana masyarakat menjadi pelaku utama, lingkungan tetap terjaga, dan ilmu pengetahuan hadir untuk memperkuat praktik lokal. Dengan pengelolaan yang terarah dan dukungan kebijakan yang konsisten, model ini berpotensi memperkuat posisi Wakatobi sebagai destinasi ekowisata kelas dunia yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kokoh secara sosial, ekonomi, dan ekologis.